please wait

Teaching Factory

Definisi Teaching Factory

Teachbing Factory adalah model pembelajaran berbasis produk (barang/jasa) melalui sinergi sekolah dengan industri. Sesuai dengan PP No. 41/2015 pasal 6 ayat 1 dicantumkan bahwa penyelenggaraan pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi harus dilengkapi dengan LSP, Teching Factory dan TUK, dengan demikian setiap SMK harus dapat menerapkan model pembelajaran teaching factory ini. Model pembelajaran teaching factory mempunyai 3 (tiga) komponen, yaiu : (i) produk sebagai media pengantar kompetensi, (ii) jobsheet  yang memuat urutan kerja dan penilaian sesuai dengan prosedur kerja stadar industri serta, (iii) pengaturan jadwal belajar yang memungkinkan terjadinya pengantaran soft skill dan hard skill ke peserta didik dengan optimal. Setiap kompetensi keahlian yang ada di SMK dapat menerapkan teaching factory melalui 3 komponen tersebut sesuai dengan karakteristik dan kompleksitas masing-masing. 

Di dalam Grand Design pengembangan Teaching Factory  dan Technopark di SMK, (Kemendikbud, 2016:92) dijelaskan bahwa konsep teaching factory sudah  dilaksanakan sejak tahun 2000 dalam bentuk sederhana, yaitu berupa pengembangan unit produksi. Konsep tersebut kemudian dikembngakn pada tahun 2005 menjadi sebuah model pengembangan SMK berbasis industri terdiri dari : (i) pengembangan SMK berbasis industri sederhana; (ii) pengembagan SMK berbasis industri yang berkembang; dan (iii) pengembangan SMK berbasis industri yang berkembang dalam bentuk factory sebagai tempat belajar. Adapun tahapan yang dilakukan SMK Wikrama untuk dapat menerapkan konsep techin factory.

Tahap-tahap Penerapan Teaching Factory di SMK Wikrama

1. Pengenalan dan Pemahaman Konsep Teaching Factory

Kegiatan ini dikemas dalam bentuk workshop memberikan pemahaman konsep Teachig Factory kepada warga sekolah dengan mendatangkan narasumber yang berkompeten, yaitu dari Direktorat Pembinaan SMK , mitra industri, serta beberapa SMK terdekat yang sudah menerapkan Teaching Factory, diantaranya SMKN 1 Pacet, SMKN 3 Bogor, dan SMKN 1 Bogor.

2. Penyusunan Perangkat Pembelajaran Teaching Factory

SMK Wikrama Bogor menyusun perangkat pembelajaran Teaching Factory  yang didampingi oleh Tim Pendamping dari Direktorat Pembinaan SMK dalam bentuk disukusi yang berlangsung selama dua hari.

3. Pembahasan Program Kerja Pengembangan Teaching Factory

Program kerja masing-masing kompetensi keahlian di SMK Wikrama Bogor dibahas tuntas dalam sebuah workshop bersama dengan pendamping dari Direktorat Pembinaan SMK dan kembali mendatangkan mitra dari industri dan SMK Teaching Fctory terdekat untuk memberikan saran dan masukan. 

4. Pengondisian Fasilitas dan Sarana Prasarana

Pembenahan dan revitalisasi dilakukan di SMK Wikrama Bogor untuk membuat suasana sekolah seperti layaknya di industri, diantaranya melakukan pembenahann bengkel pada paket keahlian teknik komputer dan jaringan, revitalisasi peralatan termasuk jasa/bahan/sparepart dan atau pemenuhan peralatann dll pada bengkel TKJ, serta penataan lingkungann bagian luar bengkel yang di Teaching Factory-kan. 

Perubahan SMK Wikrama Setelah Teaching Factory

No.

Komponen

Hasil Pelaksanaan

1

Manajemen

 

  1. Tersusunnya stuktur organisasi beserta dengan Job description yang dijalankan secara efektif
  2. Tersusunnya SOP setiap unit kegiatan TEFA yang dilaksanakan dengan konsistern
  3. Tersusunnya  alur proses (flow chart)  proses produksi dari mulai order masuk sampai billing jelas siapa yang menangani dan bertanggungjawab
  4. Informasi kegiatan teaching factory dapat diakses melalui www.smkwikrama.sch.id/ teaching-factory

2

Peralatan Praktik Pembelajaran

 

  1. Terpenuhinya jumlah peralatan 1:1 artinya satu peralatan untuk satu siswa
  2. Terstandarnya spesifikasi peralatan sesuai dengan kebutuhan

- Komputer minimal core i3 RAM 2 GB

- RB-952

- CRS Mikrotik/Managable Switch

- Antena Grid

- RB-411

- Spacer Fiber Optic

- IP Phone

  1. Terpenuhinya kebutuhan alat seperti Spacer Fiber Optic, CRS Mikrotik, IP Phone, RB-952, Wireless Router

 

3

Ruang/Lab/Bengkel

 

  1. Tersedianya ruang praktik dengan indikator sebagai berikut:
  • Luas ruang memadai/cukup longgar yaitu
  • Tefa kelas XI  adalah 7m x 12m
  • Tefa kelas X  adalah 9m x 12m
  • Ruang praktik tertata rapi dan bersih
  1. Tersedia Fire Extinguisher untuk keselamatan kerja dan alur kerja
  2. Tersedia area kerja berupa :
  • satu  meja praktik untuk  satu siswa
  • Alat maupun material yang memadai
  • Rack Mount
  • Sinar dan sirkulasi udara baik
  • 8 Jendela per ruang
  • 8 Pentilasi udara
  1. Terekamnya jejak manajemen MRC yang dilaksanakan dengan penanggungjawab yang jelas
  2. Tertata layout sesuai standar yang diterapkan di industri dan diatur dengan rapi sesuai dengan kompetensinya
  • Layout ruangan dibuat bedasarkan area kelompok kerja mapel (produk) yang dibuat
  • Layout ruang memperhatikan aspek keamanan, keselamatan  dan kesehatan (K3)

 

4

Proses Produksi

 

Memiliki hasil praktik siswa merupakan produk dalam bentuk jasa (produk jadi / setengah jadi) yang siap jual, yaitu

  1. Membangun jaringan VLAN (Virtual Local Area Network)
  2. Membangun Routing Jaringan WAN (Wide Area Network)
  3. Manajemen Bandwidth dan Load Balancing
  4. Instalasi Server Intranet
  5. Server Hosting
  6. Perakitan Komputer
  7. Instalasi Sistem Operasi
  8. Instalasi Driver Komputer
  9. Instalasi Software Aplikasi
  10. E-Book
  11. CV Digital
  12. Membangun Server Voip
  13. Kasir Sederhana C++

5

Kurikulum

Tersusunnya perangkat pembelajaran Teaching Factory, yaitu:

  1. Hasil analisa produk oleh tim guru paket keahlian Teknik Komputer dan Jaringan
  2. Hasil analisis Kompetensi Dasar  produk Teaching Factory
  3. Penyusunan Silabus berbasis produk yang menggunakan model pembelajaran teaching factory
  4. Job Sheet produk
  5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP yang disusun  dengan materi praktik diambil dari produk/jasa untuk tujuan pencapaian KI dan KD

  1. Perangkat penilaian berbasis proses dan produk
  2. Sistem penjadwalan di  Blok
  3. Hasil Sinkronisasi kurikulum
  4. Hasil praktik merupakan produk/jasa yang layak jual sesuai dengan tuntutan pelanggan.

6

Sumber Daya Manusia

  1. Terlatihnya 2 orang guru mata pelajaran kejuruan untuk kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan telah melaksanakan magang guru selama sebulan dengan hasil sebagai berikut:
  1. Peserta magang dapat mengaplikasikan  pengetahuan tentang istilah-istilah fiber optik
  2. Peserta magang dapat mengaplikasikan  pengetahuan tentang  jenis-jenis  kabel  fiber optik
  3. Peserta magang dapat mengaplikasikan  pengetahuan tentang  jenis-jenis  konektor  fiber  optik dan aksesorisnya
  4. Peserta magang melaksanakan tindakan Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan (K3) di area kerja
  5. Peserta magang dapat melakukan penarikan kabel fiber optik outdoor
  6. Peserta magang dapat melakukan pengukuran sinyal optik dengan power meter.
  7. Peserta magang dapat melakukan pemasangan konektor fiber optik
  8. Peserta magang dapat menerapkan  pengetahuan  tentang  komponen  aktif  dan  pasif  pada sistem  komunikasi  fiber  optik  untuk  aplikasi  jaringan  backbone, metro dan last mile.
  9. Peserta magang dapat melakukan penyambungan fiber optik dengan fusion splicer
  10. Peserta magang dapat melaksanakan pekerjaan penyambungan
  11. Peserta magang dapat melakukan pengukuran dengan OTDR.
  12. Peserta magang dapat Merencanakan lokasi pengerjaan instalasi fiber optic
  13. Peserta magang dapat melaksanakan pengukuran menggunakan OTDR
  14. Peserta magang dapat melakukan troubleshooting
  1. Guru non produktif menganalisis KD atau materi yang terintegrasi dengan kebutuhan industi
  2. Guru di paket keahlian mempunyai kemampuan memecah atau merinci suatu produk/jasa menjadi elemen kompetensi pembelajaran

7

Hubungan Industri

 

  1. Bertambahnya ruang lingkup  MOU dengan industri  yang berkaitan dengan kebutuhan teaching factory yaitu
    • Sinkronisasi Kurikulum
    • Guru Tamu
    • Tempat Praktik Kerja Lapang
    • Rekruitmen
    • Magang Guru
    • Resource Sharing
  2. Terdapat 3 perusahaan yang telah melakukan MOU terkait pelaksanaan program Teaching Factory yaitu:
  • PT. Jetcoms, Jakarta
  • WIR Group, Jakarta
  • SPC (Gooptix), Bandung

Hasil pelaksanaan model pembelajaran teaching factory ini tentunya banyak membawa dampak positif bagi SMK Wikrama, terutama dalam membentuk budaya industri dan budaya kerja yang efektif dan efisien baik pada individu siswa, tenaga pendidik dan kependidikan, yaitu :

1. Terciptanya budaya disiplin

2. Guru selain menjadi pendidik dan pembimbing, pada program ini guru juga menjadi operator, mentor dan inspector, fasilitator, inisiator dan inspirator ; serta Role Model.

3. Pada proses pembelajaran menerapkan budaya industri dengan adanya standar kualitas (quality control), target waktu, efisiensi proses produksi, rotasi kerja (shift), produk kerja yang jelas, hasil praktik dapat menjadi sumber pendapatan (generating income).

4. Sekolah mempunyai network dengan industri, baik untuk transfer teknologi maupun membangun budaya industri sekolah.

5. Terjadi perubahan mindset dari pendekatan teori dan praktik simulasi ke pendekatan produksi.

6. Ada perubahan proses dari pola "belajar" menjadi pola "aplikatif". Pada pola pendekatan produksi, penekanan lebih diarahkan ke benda jadi yang nantinya "berguna" baik untuk internal sekolah maupun masyarakat.